Showing posts with label KISAH TELADAN. Show all posts
Showing posts with label KISAH TELADAN. Show all posts

04 October 2018

Kisah Nabi Sulaiman dan Seekor Semut Yang Beriman

Pada zaman Nabi Sulaiman pernah terjadi sebuah peristiwa, pada waktu itu Nabi Sulaiman melihat seekor semut yang sedang berjalan di atas batu; kemudian Nabi Sulaiman merasa takjub dan terheran bagaimana seekor semut tersebut dapat bertahan hidup di atas batu yang kering di tengah-tengah padang pasir gersang dan tandus. Kemudian Nabi Sulaiman bertanya kepada semut itu: “ Wahai semut bagaimana caramu mendapat makanan? Apakah kamu yakin dapat memperoleh makanan yang cukup bagimu agar dapat bertahan hidup”.



Lalu Semut pun menjawab: “Rejeki ada di tangan ALLAH, dan aku percaya rejeki ada di tangan ALLAH, aku sangat yakin di atas batu yang kering di padang pasir tandus seperti ini pun pasti ada rezeki untuk ku”. Kemudian Nabi Sulaiman bertanya: ” Wahai semut, seberapa banyak engkau makan? Dan Jenis makanan seperti apa yang engkau suka? Dan seberapa banyak makanan yang kamu makan dalam sebulan?”

Semut menjawab: “Aku makan hanya sebiji gandum setiap 1 bulan”.

Nabi Sulaiman lalu berkata: “Jika kamu hanya makan sebiji gandum dalam sebulan maka tidak lah sulit bagimu melata di atas batu, aku pun bisa membantumu”. Nabi Sulaiman mengambil sebuah kotak, lalu ia angkat semut itu dan memasukkan ke dalamnya; lalu Nabi Sulaiman mengambil sebiji gandum, dibubuhkannya kedalam kotak dan di tutup lah kotak tersebut.

Lalu Nabi sulaiman meninggalkan semut tersebut di dalam kotak yang tertutup dengan sebiji gandum yang ada didalamnya untuk jatah makanan semut selama 1 bulan. Hingga akhirnya 1 bulan kemudian Nabi Sulaiman kembali datang untuk bertemu dan melihat keadaan si semut. Maka Terlihat gandum yang sebiji cuma dimakan setengah saja oleh semut, kemudian Nabi Sulaiman berkata dengan suara yang meninggi: “Kamu ternyata berbohong padaku! Bulan lalu kamu berkata kamu makan sebiji gandum dalam sebulan, ini sudah sebulan lewat namun kamu cuma makan separuhnya”.
Semut menjawab: “Wahai nabi Sulaiman, Aku tak berbohong, aku tak berbohong, jika aku ada di atas batu maka aku pasti makan apapun sehingga jumlah banyaknya sama seperti sebiji gandum untuk 1 bulan, itu karena makanan yang ku cari sendiri dan rezeki tersebut datangnya dari Allah dan Allah tak pernah lupa kepadaku. Namun bila kamu memasukkan aku dalam kotak yang tertutup, maka rezekiku bergantung kepadamu dan aku tak percaya padamu, dan itulah sebabnya aku makan hanya setengahnya saja agar supaya tahan 2 bulan. Karena Aku takut kamu lupa…”.

Dan Akhirnya Nabi Sulaiman pun tersenyum dan mengerti tentang penjelasan semut tadi

Pelajaran yang dapat dipetik dari Kisah ini:
Bahwa seekor semut sahabat Nabi Sulaiman sudah mengajarkan kepada kita tentang makna hakiki sebuah kemerdekaan, dan sebuah kemandirian. Kebebasan sejati ialah tatkala kita hanya bergantung keyakinan diri kita hanya pada Allah Subhanahu wata’ala sang Khaliq. Dan takmenggantungkan diri kita pada selain Nya, bernama makhluk, yang diciptakan.

Kisah Seekor Semut yang beriman - Ini merupakan sebuah harga diri yang harus kita tanamkanke dalam diri kita, ini merupakan martabat dan kemuliaan seorang yang beriman. Bahwa keyakinan itu sejarah mencatat tentang peradaban umat manusia sudah ditulis dengan tinta emas yakni betapa kemuliaan perjuangan para Nabi yang telah diwariskan pada umat manusia. Ini merupakan sebuah prinsip perjuangan seluruh Nabi agar menundukkan diri hanya pada Tuhan semesta alam, dan tak sekutu bagi Nya.
Dalam Agama islam telah amat jelas dikatakan bahwa manusia yang merdeka, manusia yang memiliki jiwa yang lapang ialah manusia yang sholat, ibadah, hidup, dan matinya hanya untuk Allah semata. Sungguh inilah makna sebenarnya dari konsepsi keesaan Tuhan Yang Maha Esa.

Tatkala setiap tutur kata dan perbuatan kita selalu terjaga dari hal yang sia-sia, senantiasa terjaga dari keburukan, karena dalam diri sudah tertancap keyakinan bahwa semua perkataan dan perbuatan kita selalu diawasi oleh Allah SWT tanpa sedetikpun terlewatkan. Bahkan niat kita yang masih dalam hatipun Allah mengetahuinya. Sehingga dari keyakinan itu, muncul kesadaran kita untuk mendedikasikan hidup dan kehidupan kita hanya karena Allah SWT semata.
Share:

06 August 2018

Kisah Anak Sholeh dan Kubah Ajaib


Kisah Anak Sholeh dan Kubah Ajaib di Zaman Nabi Sulaiman

Suatu hari Nabi Sulaiman telah menerima wahyu dari Allah agar supaya pergi ke tepi pantai untuk menyaksikan sebuah benda ajaib yang akan ditunjukkan pada Nabi Sulaiman. Setelah bersiap, Nabi Sulaiman pun berangkat ke tepi pantai yang telah di nyatakan di dalam wahyu. Baginda nabi di iringi oleh kaum jin, manusia dan juga binatang.


Setelah tiba di pantai, Nabi Sulaiman kemudian mengintai-intai untuk mencari sesuatu seperti yang telah difirmankan oleh Allah. Setelah beberapa lama mencari, baginda nabi Sulaiman belum menjumpai apa-apa. Kata salah seorang dari mereka “Mungkin salah tempat”. Namun baginda nabi menjawab “Tidak, di sini tempatnya”. Nabi Sulaiman kemudian mengarahkan Jin Ifrit agar supaya menyelam ke dalam laut untuk melihat apa-apa yang pelik dan ajaib. Jin Ifrit kemudian menyelam agak lama juga barulah ia kembali pada Nabi Sulaiman dan mengatakan bahwa dia tidak menjumpai apa-apa atau benda yang ajaib. 

Lalu Nabi Sulaiman bertanya “Apakah kamu menyelam sampai dasar laut? ”, “Tidak” Jawab jin ifrit. Nabi Sulaiman pun meminta Jin Ifrit untuk menyelam sampai ke dasar laut. Setelah puas menyelam dan mencari-cari benda yang telah di katakan oleh Nabi Sulaiman, Jin Ifrit juga tak menjumpai apa-apa atau benda yang ajaib dan ia melaporkan pada Nabi Sulaiman.

Perdana Menteri yang bernama Asif bin Barkhiya sudah berbisik ke telinga Nabi Sulaiman dan meminta kebenaran untuk menolongnya. Sesudah memperoleh izin dari Nabi Sulaiman, dia pun membaca sesuatu dan terus menyelam ke dalam laut. Maka, tidak lama kemudian Asif menemukan sebuah kubah yang amat cantik. Kubah tadi memiliki empat penjuru, setiap penjuru terdapat pintu. Pintu pertama terbuat dari mutiara, pintu kedua diperbuat dari zamrud yang berwarna merah, pintu ketiga dibuat dari jauhar dan pintu keempat dibuat dari zabarjad. Pintu-pintu tadi terbuka luas, namun anehnya air tak masuk ke dalam kubah tersebut walau pintunya terbuka lebar. 

Dengan kuasa Allah, Asif bisa membawa kubah tadi naik ke darat dan diletakkan ke hadapan Nabi Sulaiman. Kemudian Nabi Sulaiman melihat kubah tadi dengan penuh takjub atas nama kebesaran Allah. Baginda berangkat untuk melihat kubah tadi, sesudah melihat ke dalam di dapati ada seorang pemuda yang berada di dalamnya. Pemuda tadi masih belum sadar walau kubahnya sudah diangkat ke darat karena sedang asyik bermunajat pada Allah SWT. Nabi Sulaiman pun memberi salam pada pemuda tadi. Lalu Pemuda tadi menyambut salam dengan perasaan terkejut dan melihat orang ramai sedang ada di situ. 

Nabi Sulaiman kemudian memperkenalkan diri pada pemuda tersebut bahwa beliau merupakan Nabi Allah Sulaiman. Pemuda itu bertanya “Dari mana mereka ini dan bagaimana bisa mereka datang?”. Pemuda tersebut merasa heran dan sesudah menjenguk keluar dia mendapati bahwa kubahnya sudah berada di daratan. Nabi Sulaiman kemudian memberitahu pemuda itu bahwa mereka datang karena diperintah oleh Allah untuk melihat sebuah keajaiban yang telah dikurniakan Allah kepadanya.

Sesudah mendapat izin dari pemuda tersebut Nabi Sulaiman lalu melihat ke dalamnya untuk melihat benda ajaib yang dihiasi di dalamnya. Keindahan yang ada di dalam kubah tersebut sungguh menakjubkan. Nabi Sulaiman lalu bertanya pada pemuda tadi bagaimana dia bisa berada di dalam kubah ini yang ada di bawah dasar laut. Pemuda tersebut kemudian menceritakan bahwa dia sudah berbakti kepada kedua orang tuanya selama 70 tahun. Bapaknya seorang yang lumpuh dan ibunya juga seorang yang buta. Suatu hari saat ibunya akan meninggal dunia, ibunya memanggil dirinya dan mengatakan bahawa ibunya sudah rela di atas khidmat yang telah diberikan olehnya. 

Ibunya berdoa memohon kepada Allah agar supaya anaknya dipanjangkan umur dan selalu taat pada Allah. Kemudian sesudah ibunya meninggal dunia, tak lama kemudian bapaknya juga meninggal dunia. Sebelum bapaknya meninggal dunia, bapaknya juga sudah memanggilnya dan mengatakan bahawa ia juga sudah rela di atas khidmat yang telah diberikan olehnya. Bapaknya berdoa sebelum meninggal dunia agar supaya anaknya di letakkan di sebuah tempat yang tak bisa diganggu oleh syetan.

Do’a kedua orang tua tersebut sudah dimakbulkan oleh Allah. Pada suatu hari saat pemuda tersebut berjalan jalan di tepi pantai ia pun melihat sebuah kubah yang tengah terapung-apung di tepi pantai. Saat pemuda tadi menghampiri kubah.

Ada suara yang berkata agar supaya sang pemuda masuk ke dalam kubah. Lalu ia masuk kubah dan melihat di dalamnya tiba-tiba ia bergerak dengan cepat dan kemudian tenggelam ke dasar laut. Tak lama kemudian muncul seseorang dan memperkenalkan bahawa dia adalah malaikat yang di utus Allah. Malaikat tersebut berkata bahawa kubah itu adalah karunia Allah kerana bhaktinya kepada orang tuannya dan ia boleh tinggal di dalamnya selama yang ia mau, segala makanan dan minuman akan dihidangkan kepadanya jika ia memerlukannya. Malaikat tersebut berkata bahwa dia diperintah oleh Allah untuk membawa kubah tadi ke dasar laut. Sejak hari itu si pemuda terus bermunajat kepada Allah sampai hari ini.

Nabi Sulaiman lalu bertanya pada pemuda itu “Berapa lama kamu berada dalam kubah ini?” Pemuda itu pun menjawab “Saya tak menghitungnya namun mulai memasukinya pada masa pemerintahan Nabi Allah Ibrahim a.s lagi”. Kemudian Nabi Sulaiman menghitung “. Ini artinya kamu sudah berada di dalam kubah ini selama 2400 tahun”. Nabi Sulaiman lalu berkata “Wajahmu mu tak berubah, malah selalu muda walau sudah 2400 tahun lamanya”. 

Nabi Sulaiman bertanya pada pemuda itu apakah dia ingin pulang bersamanya”. Pemuda tersebut menjawab “Nikmat apa lagi yang harus aku minta selain dari nikmat yang telah dikurniakan oleh Allah pada ku ini”. Nabi Sulaiman kemudian bertanya”Apakah kamu ingin pulang ke rumah tempat asal mu?” pemuda itu menjawab “Ya, silahkan antar aku ke tempat asalku”. Nasi Sulaiman kemudian memerintahkan Perdana Menterinya untuk membawa kubah tadi ke tempat asalnya.

Sesudah kubah tersebut ditaruh ke tempat asal, Nabi Sulaiman pun berkata pada kaumnya “Kamu semua sudah melihat keajaiban yang telah dikurniakan oleh Allah. Maka lihatlah betapa besar balasan yang telah Allah berikan pada orang yang taat dan berbakti pada orang tuanya dan betapa pedih siksa Allah bagi orang yang durhaka pada kedua ibu bapanya”. Nabi Sulaiman lalu berangkat pulang ke tempatnya dan senantiasa bersyukur pada Allah Taala karena sudah memberikan kesempatan padanya untuk menyaksikan hal yang ajaib dan indah.

Share:

30 March 2018

Kisah Kilab bin Umaiyah dan Baktinya Kepada Orang Tua

Kisah Kilab bin Umaiyah - Ada seorang laki-laki bernama Kilab bin Umayyah bin Askar. Ia memiliki seorang ayah dan ibu yang telah tua. Dia selalu menyiapkan susu untuk keduanya setiap pagi dan petang hari. Lalu datanglah dua orang menemui Kilab, mereka mengajaknya untuk pergi berperang. Dan ternyata Kilab tertarik akan ajakan tersebut, kemudian dia membeli seorang hamba sahaya untuk dapat menggantikannya dalam mengasuh kedua orang tuanya. Kemudian Kilab pun pergi berangkat berjihad.

Pada suatu malam, seorang hamba sahaya tadi datang sambil membawa gelas jatah susu petang hari pada ayah dan ibu Kilab, saat keduanya sedang tidur. Dia menunggu beberapa saat dan tak membangunkannya dan pergi. Di tengah malam keduanya pun terbangun dalam keadaan lapar, bapak Kilab kemudian berkata,
“Dua orang sudah memohon kepada Kilab dengan kitabullah. Keduanya sudah bersalah dan merugi. Engkau meninggalkan Ayahmu yang kedua tangannya sudah gemetar, dan ibumu yang tak dapat minum dengan nikmat. Bila merpati itu bersuara pada lembah Waj karena telur-telurnya, kedunya pun mengingat Kilab. Dia didatangi oleh dua orang yang dating membujuknya. Wahai hamba Allah, sungguh bahwa keduanya sudah durhaka dan merugi. Aku memanggilnya kemudian ia berpaling dengan menolak. Maka ia tak berbuat yang benar. Sesungguhnya saat kamu mencari pahala selain dengan berbakti kepadaku, hal itu seperti pencari air yang sedang memburu fatamorgana. Apakah terdapat kebaikan sesudah menyia-nyiakan kedua orang tua? Demi bapak Kilab, perbuatannya itu tidak dibenarkan.”
Bila ada orang luar Madinah yang telah datang ke kota Madinah, Umar bin Khatab radhiallahu ‘anhu selalu bertanya tentang berita-berita dan keadaan mereka. Umar pun bertanya pada salah seorang yang datang, “Dari mana engkau?” Orang itu pun menjawab, “Dari Thaif.” Umar bertanya lagi, “Ada berita apa?” Orang itu kemudian menjawab, “Aku melihat seorang laki-laki yang berkata (laki-laki ini menyebutkan ucapan dari bapak Kilab tersebut di atas).” Umar kemudian menangis dan berkata, “Sungguh Kilab sudah mengambil langkah yang salah.”
Lalu bapak Kilab, Umaiyah bin Askar dengan penuntunnya bertemu Umar yang sedang berada di masjid. Ia mengatakan, “Aku dicela. engkau telah mencelaku secara tiada batas, dan engkau tidak tahu penderitaan yang sudah kurasakan. Bila engkau mencelaku, maka kembalikanlah Kilab saat ia berangkat ke Irak. Pemuda mulia ada dalam kesulitan dan kemudahan, kokoh dan tangguh saat hari pertempuran. Tidak, demi bapakmu, cintaku untukmu tidaklah usang. Begitu juga harapanku dan kerinduanku padamu. Seandainya pun kerinduan yang mendalam dapat membelah hati, maka niscaya hatiku sudah terbelah karena kerinduanku kepadanya. Maka Aku akan mengadukan al-Faruq (yang dimaksud Umar bin Khattab) pada Tuhannya yang sudah menggiring jamaah haji ke tanah yang berbatu hitam. Aku berdoa pada Allah dengan mengharapkan limpahan pahala dari-Nya di lembah Akhsyabain sampai air hujan mengalirinya. Sungguh al-Faruq tak memanggil Kilab agar supaya pulang pada dua orang tua yang sedang kebingungan.”
Umar pun menangis, kemudian beliau menulis surat pada Abu Musa al-Asy’ari agar segera memulangkan Kilab ke kota Madinah. Abu Musa kemudian berkata pada Kilab, “Temui Amirul Mukminin Umar bin Khattab.” Kilab pun menjawab, “Aku tak melakukan kesalahan, tidak juga melindungi orang yang salah.” Abu Musa lalu berkata, “maka Pergilah!”
Kilab pulang ke kota Madinah. Saat Umar bertemu dengannya, beliau pun mengatakan, “Sejauh mana engkau berbuat baik pada orang tuamu?” Kilab pun menjawab, “Aku memperhatikannya dengan mencukupi kebutuhannya. Bila aku akan memerah susu untuk kedua orang tuaku, maka aku terbiasa memilih onta betina yang paling gemuk, yang paling sehat dan juga yang paling banyak kandungan susunya. Aku selalu mencuci puting susu onta itu, dan kemudian aku memerah susunya, dan menghidangkannya pada mereka.”
Umar kemudian mengutus orang untuk menjemput bapaknya. Bapak Kilab datang dengan tertatih seraya menunduk. Umar bertanya padanya, “Apa kabar, wahai Abu Kilab?” Ia menjawab, “Seperti yang engkau lihat wahai Amirul Mukminin.” Umar pun bertanya, “Apakah engkau ada kepeluan?” Ia menjawab, “Aku ingin sekali melihat Kilab. Aku ingin sekali mencium dan memeluknya sebelum aku mati.” Kemudian Umar menangis dan berkata, “Keinginanmu akan terwujud insya Allah.”

Kisah Islami Lainnya
Lalu Umar memerintahkan Kilab agar segera memerah susu onta untuk bapaknya seperti yang biasanya yang ia lakukan. Kemudian Umar menyodorkan segelas susu itu pada bapak Kilab dan berkata, “Minum ini, wahai bapak Kilab.” Saat bapak Kilab mendekatkan gelas ke mulutnya, dia pun berkata, “Demi Allah, aku telah mencium bau kedua tangan Kilab.” Umar lalu mengatakan, “Ini Kilab, dia sudah ada di sini. Kami yang telah menyuruhnya pulang.” Bapak Kilab pun menangis dan Umar bersama orang yang hadir pun ikut menangis. Mereka lalu berkata, “Wahai Kilab, temanilah kedua orang tuamu.” Maka Kilab tak pernah lagi meninggalkan mereka berdua hingga wafat.
Share:

13 October 2017

Kisah Umar bin Khattab, Yahudi Tua dan Sepotong Tulang

Kisah Umar bin Khattab, Yahudi Tua dan Sepotong Tulang - Mungkin dintara kita sudah ada yang pernah mendengar tentang kisah ini, bahwa keadilan khalifah Umar Bin Khattab kepada seorang Yahudi Tua yang mengadukan permasalahannya. Adapun kisah ini diambil dari buku 30 kisah teladan yang ditulis oleh K.H Abdurrahman Arroisi. Buku ini sudah cukup lama yang dicetak hingga sembilan kali (pada tahun 1986-1994) namun kisah-kisahnya masih mampu menggugah keimanan dan keislaman kita.


Adil pada Semua Golongan
Semenjak diangkat jadi gubernur Mesir oleh Khalifah Umar bin Khattab, Amr bin Ash mulai menempati sebuah istana megah yang di depannya terdapat sebidang tanah kosong yang berawa-rawa, dan diatasnya cuma ada gubuk reyot yang hampir roboh. Selaku seorang gubernur, dia menginginkan agar supaya di atas tanah tadi, didirikan sebuah masjid yang indah dan megah agar tampak seimbang dengan istananya. Apalagi Amr bin Ash mengetahui bahwa tanah dan gubuk itu rupanya milik seorang yahudi. Maka yahudi tua pemilik tanah tersebut dipanggil untuk menghadap istana untuk merundingkan rencana Gubernur Amr bin Ash tersebut.


“wahai Yahudi, berapa harga jual tanah punyamu sekalian gubuknya? Aku akan membangun masjid di atasnya.”
Yahudi itu pun menggelengkan kepalanya, “tak akan saya jual, Tuan.”
“Kubayar 3 kali lipat dari harga biasanya?” tambah Gubernur menawarkan keuntungan yang lebih besar.
“namun Tetap tidak akan saya jual” kata si Yahudi.
“Akan kubayar 5 kali lipat dibandingkan harga yang umum!” kata Gubernur.
Yahudi itu pun mempertegas jawabannya, “Tidak.”
Maka ketika si kakek yang beragama Yahudi itu meninggalkan kediaman Gubernur, Amr bin Ash memutuskan untuk melalui surat untuk membongkar gubuk reyotnya dan mendirikan masjid besar di atas tanahnya yakni dengan alasan kepentingan bersama dan untuk memperindah pandangan mata. Yahudi pemilik tanah dan gubuk tak dapat berbuat apa-apa menghadapi tindakan penguasa. Ia hanya dapat menangis dalam hati. Akan ia tidak putus asa untuk memperjuangkan haknya. Lalu Ia bertekad untuk mengadukan perbuatan gubernur tadi kepada atasannya di Madinah, yakni Khalifah Umar bin Khattab.
Sungguh dia tidak menyangka, Khalifah yang namanya amat tersohor itu tak memiliki istana mewah. Ia bahkan diterima Khalifah di halaman masjid Nabawi, yakni di bawah sebatang pohon kurma yang rindang.
“Ada apa gerangan Tuan datang jauh-jauh kesini dari Mesir?” tanya Khalifah Umar. Walau Yahudi tua itu gemetaran berdiri di depan Khalifah, namun kepala negara yang bertubuh tegap itu menatapnya dengan sebuah pandangan sejuk sehingga dengan lancar ia bisa menyampaikan keperluannya dari sejak kerja kerasnya seumur hidup untuk bisa membeli tanah dan gubuk kecil, hingga perampasan hak miliknya oleh seorang gubernur Amr bin Ash dan dibangunnya masjid megah yang ada diatas tanah miliknya.
Umar bin Khattab kemudian mendadak merah padam mukanya. Dengan murka ia pun berkata, “Perbuatan Amr bin Ash keterlaluan.” Sesudah agak reda emosinya, Umar lantas menyuruh seorang Yahudi tadi untuk mengambil sebatang tulang dari tempat sampah yang ada di dekatnya. Yahudi itu ragu untuk melakukan perintahnya. Apakah dia salah dengar? Oleh sang Khalifah, tulang itu kemudian digoreti huruf alif lurus dari atas ke bawah, kemudian dipalang di tengah-tengahnya memakai ujung pedang. Lalu tulang tersebut diserahkan pada si kakek seraya berkata, “Tuan. Bawalah tulang ini ke Mesir, dan berikan pada gubernur Amr bin Ash.”
Yahudi itu pun semakin bertanya-tanya. dia datang jauh-jauh dari Mesir dengan tujuan untuk memohonkan keadilan pada kepala negara, akan tetapi apa yang dia peroleh? Hanya sebuah tulang berbau busuk yang hanya digoret-goret dengan ujung pedang. Ia berpikir, Apakah Khalifah Umar tidak waras?
“Maaf, Tuan Khalifah.” Dia berkata, “Saya datang kesini menuntut keadilan, akan tetapi bukan keadilan yang Anda berikan. Melainkan hanya sepotong tulang yang tidak berharga. Bukankah ini sebuah penghinaan kepada diri saya?”
Umar tak marah. Ia meyakinkan dengan sebuah penegasannya, “Hai, kakek Yahudi. Pada tulang busuk itu ada keadilan yang Tuan inginkan.”
Maka, walau sambil mendongkol dan mengomel sepanjang jalan, si kakek Yahudi itu kemduian berangkat menuju tempat asalnya dengan membawa sepotong tulang belikat unta yang berbau busuk. Namun Anehnya, begitu tulang yang tidak bernilai tadi diterima oleh gubernur Amr bin Ash, maka tak disangka mendadak tubuh Amr bin Ash menggigil dan wajahnya pun menyiratkan ketakutan yang teramat sangat. Seketika itu juga ia memerintahkan pada segenap anak buahnya untuk merobohkan masjid yang baru dibangun, dan agar supaya dibangun lagi gubuk milik kakek Yahudi dan menyerahkan kembali hak atas tanahnya.
Anak buah Amr bin Ash telah berkumpul seluruhnya. Masjid yang sudah memakan dana besar itu akan dihancurkan. Tiba-tiba si kakek Yahudi mendatangi gubernur Amr bin Ash dengan terburu-buru.
“Ada perlu apalagi, Tuan?” tanya Amr bin Ash yang berubah sikap menjadi lemah lembut dan hormat. Dengan masih terengah-engah, Yahudi itu pun berkata, “Maaf, Tuan. Jangan dibongkar dahulu masjid itu. Izinkan saya bertanya perkara yang mengusik rasa penasaran saya.”
“tentang apa?” tanya gubernur tak mengerti.
“Apa penyebabnya Tuan begitu ketakutan dan mulai menyuruh untuk merobohkan masjid yang Anda bangun dengan biaya besar, cuma lantaran menerima sepotong tulang dari sang Khalifah Umar?”
Gubernur Amr bin Ash menjawab pelan,”Wahai Kakek Yahudi. ketahuilah, tulang itu hanya tulang biasa, dan baunya busuk. Namun karena dikirimkan oleh Khalifah, tulang itu menjadi sebuah peringatan yang teramat tajam dan tegas dengan dituliskannya huruf alif / garis yang dipalang pada bagian tengah-tengahnya.”
“Maksudnya?” tanya si kakek semakin keheranan.
“Tulang itu berisi sebuah ancaman dari Khalifah: wahai Amr bin Ash, ingatlah kamu. Siapapun kamu sekarang, betapapun tingginya pangkat dan juga kekuasaanmu, suatu saat nanti kamu pasti akan berubah menjadi tulang yang busuk. Maka dari itu, bertindak adillah engkau seperti huruf alif yang lurus ini, adil di atas dan juga di bawah, karena, bila kamu tidak bertindak lurus, kupalang di tengah-tengahmu, atau kutebas batang lehermu.”

Kisah Islami Lainnya:


Yahudi itu pun menunduk terharu. Ia kagum akan sikap khalifah yang tegas dan juga sikap gubernur yang patuh pada atasannya cuma dengan menerima sepotong tulang. Benda yang rendah itu kemudian berubah menjadi putusan hukum yang sangat keramat dan ditaati di tangan para penguasa yang beriman. Lalu yahudi itu pun kemudian menyerahkan tanah dan gubuknya sebagai tanah wakaf. Kemudian dengan kejadian itu, ia langsung menyatakan untuk masuk Islam.
Share:

07 October 2017

Kisah Hikmah Ibnu Hajar Al-Asqalani (Si Anak Batu)

Ibnu Hajar Al-Asqalani, beliau ialah seorang anak yatimm, Ayahnya meninggal padaa saat ia masih berusia 4 tahun dan ibunya meninggal saat beliau masih usia balita. Maka di bawah asuhan kakak kandungnya, beliau tumbuh dewasa menjadi remaja rajin, pekerja keras dan amat berhati-hati dalam menjalani hidupnya dan memiliki kemandirian yang tinggi. Beliau dilahirkan pada tanggal 22 sya’ban pada tahun 773 Hijriyah di daerah pinggiran sungai Nil, Mesir.


Nama asli beliau ialah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Qabilah yang asalnya dari Al-Asqalan. Akan tetapi ia lebih masyhur dengan julukan Ibn Hajar Al Asqalani. Ibnu Hajar artinya anak batu sementara Asqalani ialah nisbat kepada ‘Asqalan’, nama sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, yakni daerah dekat Ghuzzah.

Pada Suatu ketika, di saat beliau masih belajar pada sebuah madrasah, dia terkenal sebagai murid yang sangat rajin, akan tetapi ia juga dikenal sebagai murid yang bodoh, ia selalu tertinggal jauh dari teman-temannya. Bahkan seringkali lupa dengan pelajaran-pelajaran yang sudah di ajarkan oleh gurunya di madrasah yang menjadikannya patah semangat dan juga frustasi.

Beliau kemudian memutuskan untuk pulang meninggalkan sekolahnya. Lalu di tengah perjalanan pulang, dalam rasa kegundahan hatinya meninggalkan sekolahnya, kemudian turun hujan dengan sangat lebatnya, mamaksa dirinya untuk berteduh dalam sebuah gua. Saat ia beradaa didalam gua pandangannyaa tertuju pada sebuahh tetesan air yang menetess sedikit demii sedikit jatuh dan melubangi sebuahh batu, dan ia pun terkejutt. Beliau pun berpikir dalam hati, ini sungguh sebuahh keajaiban. Melihat kejadian itu ia mulai termenung, bagaimana mungkinn batu itu dapat terlubangi hanya dengan adanya tetesan air. Ia terus mengamati tetesan air itu dan menyimpulkan bahwa batu itu berlubang karena adanya tetesan air yang terus-menerus. Maka dari peristiwa ituu, seketika ia pun tersadarr bahwa betapapun kerasnyaa sesuatu bila ia di asah trus meneruss maka akan jadi lunak. Batu yang keras aja dapat terlubangi oleh adanya tetesan air apalagi kepala saya yang tak sekeras batu. Jadi kepala saya pastinya dapat menyerap segala pelajaran bila dibarengi dengan rajin, tekun, dan sabar.

Maka sejak saat itu semangatnya kembali tumbuh kemudian beliau kembali ke sekolahnya dan bertemu Gurunya dan menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya. Melihat adanya semangat tinggi yang ada dalam jiwa beliau, gurunya pun mau menerimanya kembali untuk menjadi muridnya disekolah itu.

maka sejak saat itu perubahan pun mulai terjadi dalam diri sang Ibnu Hajar. Beliau kemudian manjadi murid yang tercerdas dan malampaui teman-teman sebayanya yang sudah manjadi para Ulama besar dan dia tumbuh menjadi seorang ulama tersohor dan punya banyak karangan dalam kitab-kitab yang masyhur dijaman kita sekrang ini. Di antara karya beliau yang sangat terkenal ialah: Fathul Baari Syarh Shahih Bukhari, al Ishabah fi Tamyizish Shahabah, Tahdzibut Tahdzib, ad Durarul Kaminah, Taghliqut Ta’liq, Bulughul Marom min Adillatil Ahkam, Inbaul Ghumr bi Anbail Umr dan lainnya.

Bahkan menurut seorang muridnya, yakni Imam asy-Syakhawi, karya beliau hingga mencapai lebih dari 270 kitab. Sebagian peneliti pada zaman ini telah menghitungnya, dan memperoleh hingga 282 kitab. Kebanyakan karyanya berkaitan dengan bahasan hadits, secara riwayat dan secara dirayat (kajian).

Kisah Islami Lainnya:

Catatan kisah:
“Kisah Beliau tersebut diatas dapat menjadi sebuah motivasi untuk kita semua, bahwa sekeras apapun dan sesulit apapun itu bila kita betul-betul ikhlas dan secara tekun serta istiqamah dalam belajar maka niscaya kita akan memperoleh sebuah kesuksesan. Maka Jangan pernah menyerah ataupun putus asa, karena kegagalan itu hal biasa, namun bila Anda berhasil bangkit dari sebuah kegagalan, maka itu merupakan hal yang luar biasa.
firman Allah SWT : “Sesungguhnya Allah tak akan mengubah keadaan suatu kaum, hingga dia sendiri yang mengubah keadaan mereka sendiri” ( Quran Surah. Ar Rad, ayat 11 ).
Share:

Blog Archive